BENDE MATARAM PDF

Ingsun gawani pusaka telu murih widagda ing laku. Siji: Jolo Korowelang. Telu: Bende Mataram. Lamun keseser yudanira, tabuhen Kyai Bende Mataram. Sayekti Ingsun dewe kang prapto Aku perintahkan kepadamu menangkap pencuri sakti bernama Pangeran Joyokusumo yang membuat keonaran dalam gedung puteri negeri Loano.

Author:Gugore Voodookora
Country:Lithuania
Language:English (Spanish)
Genre:Spiritual
Published (Last):6 January 2016
Pages:159
PDF File Size:18.4 Mb
ePub File Size:18.13 Mb
ISBN:732-4-65297-370-6
Downloads:49437
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulkikasa



Ingsun gawani pusaka telu murih widagda ing laku. Siji: Jolo Korowelang. Telu: Bende Mataram. Lamun keseser yudani-ra, tabuhen Kyai Bende Mataram.

Aku perintahkan kepadamu menangkap pencuri sakti bernama Pangeran Joyokusumo yang membuat keonaran dalam gedung puteri negeri Loano. Kusertakan padamu tiga pusaka agar berhasillah. Pertama: Jolo Korowelang. Kedua: keris bernama Kyai Panubiru juga disebut Kyai Tunggulmanik.

Ketiga: Bende Mataram. Dan aku pasti akan datang Babad Loano 1. Di seluruh wilayah negara, rakyat ikut merayakan hari penting itu. Tontonan wayang dan sandiwara rakyat hampir digelar di semua pelosok desa. Keadaan demikian tidak hanya menggembirakan rakyat desa, tetapi merupakan suatu karunia besar bagi seniman-seniman kecil.

Di suatu jalan pegunungan yang melingkari Gunung Sumbing, berjalanlah seorang laki-laki tegap dengan langkah panjang. Laki-laki itu kira-kira berumur 24 tahun. Ia mengenakan pakaian model pada masa itu. Bajunya surjan Mataram dari bahan lurik halus. Anehnya, memakai celana panjang seperti Kompeni Belanda.

Kakinya mengenakan sandal kulit kerbau yang terikat erat-erat pada mata tumitnya. Kyai Kasan Kesambi waktu itu sudah ber-umur 70 tahun. Selama puluhan tahun, ia me-nyekap dirinya di atas pegunungan untuk menyempurnakan ilmu-ilmu yang diyakini. Setelah berumur 60 tahun barulah dia menerima murid. Muridnya hanya berjumlah lima orang.

Murid yang tertua bernama Gagak Handaka. Umur murid-muridnya paling tinggi 40 tahun. Sedangkan murid termuda Suryaningrat lagi berumur 17 tahun. Meskipun murid-murid Kyai Kasan Kesambi masih tergolong berusia muda, tetapi nama mereka terkenal hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Manakala rakyat lagi membicarakan tentang tokoh-tokoh sakti pada jaman itu, pastilah nama mereka takkan ketinggalan. Mereka disebut sang Pandawa , karena jumlahnya hanya lima orang belaka. Pintalah kepadanya, agar dia sudi mengusahakan daun Tom demi kesehatan Sri Sultan. Barangkali usia Sri Sultan bisa diper- panjang dengan kesaktian daun itu.

Tak banyak orang mengetahui. Jenisnya hampir serupa dengan daun-daun tapangan dan daun pedang. Hanya mata ahli saja yang dapat membedakan jenis daun-daun itu. Inilah kesempatannya hendak menyaksikan kesaktian sahabat gurunya yang seringkali dibicarakan dalam perguruan. Rumah Kyai Haji Lukman Hakim berada di atas gundukan tanah di tepi pantai. Rumahnya sederhana. Terbuat dari papan pohon nangka dan beratap alang-alang. Meskipun demikian nampak berwibawa.

Pekarangannya penuh dengan tanaman yang mengandung khasiat obat- obatan. Bunga-bunganya menebarkan bau wangi tajam. Dengan diantar oleh seorang gembala ia bergegas mendaki gundukan tanah itu. Tetapi alangkah terkejut dan kecewanya, setelah dia sampai di depan pintu. Seorang perempuan tua datang menyambut dan mengabarkan, kalau Kyai Haji Lukman Hakim telah wafat dua bulan yang lalu. Penuh kecewa, ia segera pulang. Waktu itu bulan tiga tanggal 29 tahun Peristiwa berita kematian yang berturut-turut itu mengejutkan hati nuraninya.

Kali ini perjalanan ke Gunung Damar disekatnya dengan melewati lereng Gunung Sumbing, setelah melintasi perbatasan daerah Pekalongan Selatan. Meskipun demikian, dalam waktu satu bulan ia sampai di balik gunung. Hari hampir petang. Matahari telah condong jauh ke barat.

Angin meniup lembut sejuk. Pemandangan sekitar Gunung Sumbing sangatlah indah. Hatinya yang murung kini agak pudar. Apalagi sepanjang perjalanan, ia melihat dusun-dusun sedang berpesta merayakan hari penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bulan depan guru akan menurunkan Ilmu Mayangga Seta. Ah, masih sempat aku mengikuti tahap permulaan.

Mudah-mudahan di tengah perjalanan tidak ada aral melintang. Barang siapa dapat menguasai ilmu itu, akan pandai mengubah tempat kedudukannya dalam sedetik dua detik. Hal ini sangat berguna dalam pertempuran kerubutan. Tetapi jenis Ilmu Mayangga Seta banyak ragamnya. Setiap perguruan mempunyai paham dan pendapat sendiri. Selagi memikirkan tentang ilmu itu, tiba-tiba ia melihat dari persimpangan jalan arah barat serombongan orang yang membawa kotak-kotak kayu dan seperangkat gamelan.

Mereka berjumlah 14 orang dan berjalan kearahnya. Wirapati tertarik pada pemandangan itu. Mereka mengenakan dandanan penari dan penabuh 4 gamelan. Muka mereka dicat ber-aneka-warna. Agaknya mereka telah memper-siapkan diri menjadi tokoh-tokoh yang akan diperankan. Dari tutur-kata penduduk sepanjang jalan, Wirapati mendapat keterangan kalau perayaan penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono II akan berlangsung selama 40 hari 40 malam.

Penduduk bebas memilih macam hiburan yang cocok dengan kata hatinya. Mereka be-bas pula mengundang seniman-seniman dari daerah lain. Itulah sebabnya, seniman-seniman dari Banyumas, Jepara, Madiun, Surakarta dan Bagelen banyak memasuki daerah Kasultanan.

Rombongan yang mendatanginya, berperawakan tegap. Gerak-geriknya tangkas. Mereka berjalan cepat dan mencurigai tiap orang yang dijumpai. Tatkala mereka berpapasan dengan Wirapati, mereka menunduk. Wirapati heran mendengar kata-kata demikian, la mulai memperhatikan dan mencoba menebak-nebak maksud tiap patah katanya. Keheranannya kini kian menjadi-jadi. Mereka ternyata membawa gamelan yang terbuat dari perunggu pilihan.

Gong besar, lima buah kempul, dua pasang bonang, lima buah demung, sepasang gender, slentem dan gam-bang berat timbangannya paling tidak masing-masing limaratusan kati. Belum lagi ditambah dengan berat timbangan alat penabuh dan goyor , meskipun demikian, mereka sanggup memikul dengan berjalan sangat cepat.

Ah, mereka lebih mirip pencoleng-pen-coleng sakti, pikir Wirapati. Mukanya di cat tebal. Meskipun teman karib sekampung takkan begitu gampang mengenal mukanya. Mendapat pikiran demikian, dia ingin menguntit sambil menyelidiki. Biasanya memang ia usil, jika menjumpai sesuatu yang aneh.

Hatinya takkan puas, jika belum mendapatkan keterangan yang cukup jelas. Tetapi ia teringat akan masa pengajaran Ilmu Mayangga Seta pada bulan depan. Kalau sampai membiarkan diri terlibat dalam perkara itu, pastilah akan membutuhkan suatu penyelesaian berminggu-minggu lamanya.

Agaknya itu tidak menye-nangkan Tetapi gerak-gerik rombongan penari yang aneh itu, mengganggu hati dan penglihatan-nya. Untuk melupakan dan mengalihkan perhatiannya, ia harus mendahului mereka.

Segera Wirapati mempercepat langkahnya. Sebentar saja ia telah melampaui mereka. Menyaksikan bagaimana dia dapat berjalan begitu cepat, di antara mereka terdengar bisikan lagi. Nafsu usilannya diendapkan. Ia mempercepat langkahnya lagi, seperti seseorang yang berlari sangat cepat. Pada petang hari, tibalah dia di Dusun Butuh. Dia harus melintasi Kali Bergata. Dari sana ia akan sampai di Karangtinalang.

BINOY MAJUMDAR POEMS PDF

Bende Mataram 01-25

.

LACEWORK PETIT MOTIF 100 PDF

HERMAN PRATIKTO Serial Bende Mataram

.

BEAUTICONTROL CATALOG PDF

.

Related Articles