PEDANG PUSAKA NAGA PUTIH PDF

Ia adalah seorang pemuda baju putih yang sedang berlatih silat. Gerakan tubuhnya demikian cepat hingga seolah-olah ia bertangan enam berkepala tiga ketika ia bersilat ilmu pukulan Ouw-wan-cianghoat Silat Monyet Hitam. Sambaran kepalan tangannya sampai menggetarkan daun-daun pohon jauh di depan sehingga mutiara-mutiara air di ujung daun-daun itu jatuh berhamburan bagaikan hujan gerimis. Kakinya demikian ringan meloncat kesana kemari seakan-akan ia tak menginjak tanah!

Author:Tetaur Got
Country:Zambia
Language:English (Spanish)
Genre:Science
Published (Last):9 April 2012
Pages:420
PDF File Size:9.24 Mb
ePub File Size:13.95 Mb
ISBN:693-6-71230-896-5
Downloads:26495
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Nikotaur



Karena pokiam ini adalah barang pusaka yang suci, maka untuk memilikinya, orang harus terlebih dahulu dikuatkan tubuhnya oleh racun ouw-pek-coa ular hitam dan putih serta dia harus bersumpah dulu. Kalau teecu menggunakan pokiam ini untuk maksud-maksud yang tidak baik atau hanya untuk keuntungan diri teecu sendiri, biarlah teecu mati mendadak di bawah mata pedang ini sendiri!

Setelah kau menerima pokiam ini dariku, maka boleh dikata bahwa kau pun menjadi muridku. Di samping merupakan senjata yang tajam dan ampuh, kedua pokiam itu juga dapat mengobati korban-korban racun jahat. Jika seorang terkena racun hingga mukanya berubah hitam, maka air yang dicelupi Pek-liong Pokiam akan dapat menyembuhkannya dengan segera. Sebaliknya jika racun itu membuat wajah korbannya menjadi pucat seperti mayat, air yang dicelupi Ouw-liong Pokiam akan menjadi obatnya.

Sekarang bersiaplah, muridku. Aku akan memberi pelajaran Pek-liong Kiam-sut padamu. Belajarlah dengan rajin, karena ilmu pedang ini walau pun nampaknya mudah, namun jika tidak dipelajari dengan tekun dan sepenuh hati maka tak akan ada manfaatnya.

Tapi bila kau sudah mencapai kesempurnaan dalam ilmu ini, kukira, takkan mudah lain ilmu dapat mengalahkannya. Hanya Ouw-liong Kiam-sut saja yang barang kali dapat menandingi!

Demikianlah, untuk beberapa bulan dia mempelajari Ilmu Pedang Naga Putih dengan giat sehingga tak terasa musim Chun telah tiba pula. Pagi hari di musim Chun itu, ketika Han Liong masuk ke kamar Kam Hong Siansu, ternyata pertapa itu tidak berada di dalam kamarnya.

Yang ada di situ hanya kakeknya, Si Kim Pauw. Han Liong segera memberi hormat dan bertanya ke mana kakeknya pergi selama setahun ini sehingga tak pernah ia melihatnya. Kau beruntung sekali, Liong, karena Pek-liong Pokiam telah menjadi milikmu.

Dulu aku pernah mendengar sebuah dongeng tentang pokiam itu. Ribuan tahun yang lalu, di Gunung Kam-hong-san ini bertapa dua ekor naga sakti, seekor jantan berkulit putih dan seekor betina berkulit hitam. Kedua ekor naga sakti itu bertapa untuk membersihkan diri supaya menjadi dewa.

Hal ini menimbulkan rasa iri hati seorang pertapa yang juga bertapa di gunung itu. Ia merasa iri hati karena ia sendiri gagal dalam pertapaannya dan hatinya mengiri sekali melihat dua ekor naga itu semakin hari nampak semakin bercahaya karena telah mendekati kesempurnaannya.

Rasa iri hatinya kemudian menimbulkan pikiran jahat. Dilemparnya dua naga itu, tapi ia tak berhasil karena ternyata dua ekor naga itu sungguh sakti. Si pertapa menjadi sakit hati dan akhirnya dia berhasil mendapat semacam obat yang jahat dan manjur sekali. Dengan diam-diam dia masuk ke ruang pertapaan kedua naga itu, lantas menyemburkan obat beracun itu ke arah hidung kedua naga itu.

Ketika kedua naga itu mencium bau harum hingga tersadar dari semedhi mereka, racun jahat itu telah bekerja. Hebat sekali jalannya racun itu hingga batin kedua naga yang sudah kuat itu tidak tahan menindas pengaruhnya. Mereka berdua dipengaruhi hawa nafsu berahi besar dan keduanya lalu bercampur. Sesudah sadar mereka merasa sangat menyesal dan segera mengejar pertapa itu, lalu membunuhnya. Kemudian mereka bertapa kembali dengan hati sedih, akan tetapi pertapaan mereka gagal karena dosa yang sudah mereka perbuat.

Maka putuslah harapan mereka, dan beribu-ribu tahun kemudian mereka menjelma menjadi sepasang pedang pusaka dan berniat menebus dosa dengan menjadi pedang guna membantu orang-orang gagah membela keadilan dan kebenaran.

Nah, pedang Pek-liong Pokiam ini adalah penjelmaan dari naga putih itu dan naga hitam menjelma menjadi Ouw-liong Pokiam. Benar atau tidaknya, siapakah yang dapat memastikan? Kalau pun betul-betul ada, peristiwa itu telah terjadi ribuan tahun yang lalu.

Dan siapakah orangnya di jaman ini dapat mengetahui apa yang terjadi pada waktu itu? Ini hanya dongeng, Liong, namun, sungguh pun hanya dongeng, di dalamnya terkandung arti dan nasehat yang sangat berguna. Maka kau yang memiliki Pek-liong Pokiam, hati-hatilah dan selalu waspada terhadap godaan dari musuh yang tidak nampak oleh mata, musuh yang jauh lebih jahat dari pada musuh yang berupa manusia yang bagaimana pun buasnya, yaitu nafsumu sendiri!

Kuatkanlah batinmu untuk mengalahkan musuh yang seperti ini. Nah, mari kuantarkan kau keluar, karena sekarang Kam Hong Siansu sedang pergi keluar gunung dengan meninggalkan pesan bahwa hari ini merupakan hari terakhir bagimu tinggal di tempat ini. Kau diharuskan keluar goa, turun gunung dan mulai dengan kewajibanmu. Setelah itu mereka keluar goa, melompat ke pohon di depan goa kemudian menggunakan kekuatan mereka melayang ke atas dan akhirnya tiba di tebing jurang dengan selamat.

Ternyata keempat suhu-nya dan ie-ienya sudah menanti di situ. Yo-toanio cepat memeluk keponakannya dengan mengeluarkan air mata karena suka cita. Si Kim Pauw tidak lama di situ, setelah minta diri ia lalu kembali terjun ke jurang. Tapi ia tidak lupa untuk memberi nasehat-nasehat terakhir kepada cucunya yang tersayang itu. Han Liong dihujani pertanyaan-pertanyaan oleh kelima orang tua itu. Ia lalu menceritakan pengalamannya dengan ringkas sehingga mereka menjadi girang sekali.

Pauw Kim Kong menghela napas. Han Liong, kami hanya punya satu keinginan, yaitu melihat kau melanjutkan usaha ayahmu dan berbakti kepada bangsa. Sekarang negara tengah kacau balau, para durna memegang tampuk kekuasaan. Pembesar-pembesar rakus merajalela di kota, menindas rakyat sesuka hatinya. Di mana-mana berlaku hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menghisap yang miskin.

Kasihan rakyat kecil yang tertindas, tak ada yang membela mereka. Maka sudah menjadi kewajibanmu untuk membantu mereka yang tertindas dan butuh pertolonganmu. Kami sudah tua, tenaga kami tak seberapa, usia kami tidak lama lagi. Maka berilah kami kebahagiaan terakhir, yaitu melihat kau yang menjadi murid kami melakukan tugas mulia mewakili kami. Mula-mula gerakannya lambat, indah dan menarik, makin lama semakin cepat hingga tubuhnya tak nampak lagi, hanya kelihatan gundukan putih bergerak-gerak ke sana ke mari dengan cepatnya.

Tidak sedikit pun debu mengepul dari bawah kakinya, tetapi kelima orang tua itu merasa betapa angin pukulan yang dingin membuat jubah mereka bergerak-gerak bagaikan tertiup angin gunung! Empat orang guru itu dapat melihat dengan jelas sekali betapa ilmu-ilmu pukulan mereka digerakkan dalam cio-hwat Han Liong, tetapi pecahan-pecahannya begitu ganjil dan cepat hingga mereka merasa betapa sukarnya menandingi seorang yang bersilat dengan cara yang demikian sulit.

Sesudah Han Liong menghentikan gerakannya, serta merta mereka bertepuk tangan. Teecu tidak tahu bagaimana harus membalasnya! Kedua guru ini berpesan agar Han Liong dalam perjalanannya dapat menemui mereka itu.

Guru-guru lainnya tidak mempunyai murid lain kecuali Han Liong. Setelah menerima nasehat-nasehat penting, Han Liong lalu berangkat merantau, dengan menggendong bungkusan kuning pemberian bibinya yang berisi dua pasang pakaian dan beberapa potong perak dan emas. Keempat suhu-nya serta bibinya melihat kepergiannya dengan hati terharu Tapi alangkah kecewa hatinya ketika tiba di kota itu dia mendapat keterangan bahwa Tiat-kak-liong Lie Ban sudah beberapa bulan yang lalu pindah ke kota Hong-lung-cian beserta keluarganya.

Kota ini jauhnya ratusan li dari Lam-ciu dan kalau ditempuh jalan darat dengan berkuda kira-kira sepuluh hari baru sampai. Ada jalan yang lebih dekat, yaitu jalan air sepanjang Sungai Lien-ho dengan naik perahu. Karena maksudnya pergi merantau memang untuk meluaskan pengalaman, maka ketika mendengar bahwa jalan melalui sungai lebih indah pemandangannya, Han Liong langsung mengambil keputusan untuk menyewa sebuah perahu.

Maka pergilah ia ke perkampungan nelayan yang tinggal di dekat Sungai Lien-ho. Perkampungan itu besar juga dan penduduknya hidup dari hasil menangkap ikan di sungai dan ada pula yang khusus berpenghasilan dari menyewakan perahu, baik untuk berpesiar mau pun untuk menyeberang sungai yang lebar itu. Berapakah sewanya? Aku adalah nelayan tertua di kampung ini, dan aku memiliki perahu yang terkuat. Naik perahu Lo Sam sama dengan serasa tidur di ranjang, demikian orang-orang kota di sini berkata.

Bukannya aku hendak menyombong, tapi selama pekerjaanku mengantar orang-orang dengan perahuku dalam tiga puluhan tahun ini, belum pernah aku mengalami kecelakaan, kecuali ketika bajak sungai Hek Sam Ong mencegatku. Ke mana saja tuan akan kuantarkan dengan jaminan keselamatan penuh, tapi ke Hong-lung-cian? Tidak, tuan muda, aku tak berani.

Ada apakah di Hong-lung-cian? Di daerah itu Sungai Lien-ho ini memasuki hutan lebat sejauh sepuluh li lebih, dan tempat itulah yang ditakuti oleh para nelayan dan pelancong, karena penuh dengan bajak-bajak sungai. Mulut depan hutan terjaga oleh bajak laut gerombolan Hek Sam Ong, sedangkan pada mulut belakang dijaga oleh Oei-coa Tai-ong dengan gerombolannya.

Kedua bajak ini sudah terkenal kekejaman dan kejahatannya. Andai kata kita bisa melewati Hek Sam Ong dengan selamat, tetapi tidak mungkin kita bisa keluar dari hutan itu dan melewati Oei-coa Tai-ong si Ular Kuning.

Sudahlah, tuan muda batalkan saja niat tuan muda itu kalau masih ingin hidup. Inilah tugasku yang pertama untuk menghalau pengganggu rakyat, pikirnya. Tadi sudah kuceritakan bahwa di daerah Hek-houw-san Dan aku berjanji bahwa bajak-bajak itu pun takkan mungkin berani mengganggumu seujung rambut pun! Bukan aku hendak memamerkan tenaga, tetapi apakah kiranya batok kepala kedua raja bajak itu lebih keras dari pada batu ini?

Dan dia menjadi sangat kagum dan heran sekali melihat batu hitam yang keras itu berlobang-lobang akibat tusukan jari anak muda itu! Ia mengangguk-angguk tapi masih agak sangsi. Meski pun perahu Lo Sam sudah tua, tetapi masih cukup kuat dan atapnya pun baru saja diganti sehingga tidak bocor ketika turun hujan.

Betul sebagaimana kata orang, pemandangan di sepanjang jalan sangat indah, hawa pun sejuk sekali sehingga Han Liong merasa sangat gembira. Apa lagi Lo Sam ternyata pandai bicara dan banyak dongengnya, maka pemuda itu tidak merasa kesepian.

Sesudah perahu melaju sepanjang tepi sungai sehari semalam lamanya, pada hari kedua pagi-pagi mereka melihat bahwa sungai itu berbelok memasuki hutan. Di depan mereka nampak gunung kecil dan tinggi yang penuh dengan pohon-pohon belukar.

Perahu terus didayung maju hingga menambah kecepatannya hanyut terbawa air sungai. Untuk kedua kalinya panah melayang di atas kepala mereka, kini lebih rendah. Perahu didayung ke tengah, tapi dari arah gerombolan pohon di tepi sungai melayang tiga batang anak panah menuju ke arah mereka!

Han Liong menggunakan bukunya mengebut dan angin kebutannya membuat anak-anak panah itu mencong ke samping lalu masuk ke air. Gerakannya ini demikian sewajarnya seolah-olah tak disengaja hingga Lo Sam sama sekali tidak tahu bahwa pemuda itulah yang membuat anak-anak panah itu tak mengenai sasarannya.

ABBIE HOFFMAN WOODSTOCK NATION PDF

Pedang Pusaka Naga Putih Jilid 17

Ia adalah seorang pemuda baju putih yang sedang berlatih silat. Gerakan tubuhnya begitu cepat hingga seolah-olah ia bertangan enam berkepala tiga ketika ia bersilat ilmu pukulan Ouw-wan Ciang-hoat Silat Monyet Hitam. Bahkan angin sambaran kepalan tangannya sampai menggetarkan daun-daun pepohonan jauh di depan sehingga mutiara-mutiara air di ujung daun-daun itu jatuh berhamburan bagaikan hujan gerimis. Kakinya begitu ringan meloncat ke sana kemari seakan-akan ia tidak menginjak tanah!

COMPUTER SECURITY 3RD EDITION DIETER GOLLMANN PDF

Cersil Perdana Kho Ping Hoo : Pedang Pusaka Naga Putih

Ia adalah seorang pemuda baju putih yang sedang berlatih silat. Gerakan tubuhnya demikian cepat hingga seolah-olah ia bertangan enam berkepala tiga ketika ia bersilat ilmu pukulan Ouw-wan-cianghoat Silat Monyet Hitam. Sambaran kepalan tangannya sampai menggetarkan daun-daun pohon jauh di depan sehingga mutiara-mutiara air di ujung daun-daun itu jatuh berhamburan bagaikan hujan gerimis. Kakinya demikian ringan meloncat kesana kemari seakan-akan ia tak menginjak tanah! Tiba-tiba di atas pohon terdengar suara sayap bergerak. Anak muda itu menengok sedikit ke atas, kemudian sekali mengayun kakinya, tubuhnya melayang ke atas menuju ke sebuah dahan di mana seekor ayam hutan sedang bertengger.

Related Articles